Sobat, apa yang terlintas di benak kalian jika
mendengar nama negara tetangga kita “Malaysia”? Hmm.. Saya pikir tidak sedikit
yang akan mengumpat dengan kata-kata yang selayaknya tidak pantas untuk diucapkan.
Betulkah? Terbukti saat kompetisi piala AFF lalu Timnas Indonesia bertanding
dengan Malaysia, status-status di jejaring sosial facebook terpampang begitu
saja berisikan nama-nama penghuni kebun binatang. Apakah pantas hal semacam itu
dipublikasikan?
Mungkin ini bukan lagi soal kalah atau menang, tetapi
soal harga diri dan identitas yang ‘katanya’ telah diinjak-injak oleh negeri
tetangga. Jika memang demikian, mengapa tidak melakukan tindakan yang lebih
nyata yang tentunya lebih baik dari hanya sekedar mengumpat? Jangan sampai kita
mendapat julukan tong kosong nyaring
bunyinya, sobat. Kita juga perlu introspeksi diri agar hal-hal semacam ini
tidak perlu terulang lagi. Jika perkara ini menyangkut kebudayaan kita yang
lagi-lagi ‘katanya’ dicuri, kita bisa memperbaiki sikap kita untuk lebih
mencintai dan menghargai budaya bangsa.
Sejatinya kita dengan negeri tetangga itu adalah
saudara, sob. Sesama Muslim itu adalah saudara. Lihat penduduk warga Negara
Indonesia yang mayoritas adalah Muslim. Lihat Malaysia yang notabene adalah
Negara Muslim. Apakah selayaknya kita saling bercerai-berai? Tentu tidak. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu
bersaudara” (QS. Al-Hujuraat:10).
Mungkin ada perkara lain sebagai akar permasalahan
timbulnya perpecahan ini. Seperti kutipan dari funpage “Berbagi Ilmu Pengetahuan” di facebook berikut.
Sebuah percakapan rahasia Zionis
Yahudi: “Jika kamu ingin menghancurkan sebuah wilayah/bangsa. Bagaimana kamu
melakukannya?”
Jawabannya ada 2 cara,,,
"Cara pertama adalah kami datang mengebom daerah itu dan seterusnya, tapi
itu tidak efisien. Dan cara yang paling tepat adalah (yang kedua) yaitu membuat
mereka menghancurkan dirinya sendiri dengan
memecah belah satu sama lain, lalu kami memberikan dukungan pada keduanya dan
memiliki agen di kedua belah pihak yang memanas-manasi keduanya, sehingga
mereka saling menghina, menyakiti, membunuh dan menghancurkan satu sama lain,
ketika mereka berdua hancur maka kamilah pemenangnya."
Nah,
dari kutipan tersebut tidak menutup kemungkinan kita juga sedang diadu domba,
sob. Jika kita bersatu maka akan tercipta suatu kekuatan yang tangguh untuk
melawan pengadu domba tersebut. Tunjukkan bahwa kita sebagai umat Muslim tidak
mudah untuk diadu domba, sob! Setiap perkara pasti ada jalan keluarnya. Dan percayalah
bahwa kebenaran itu pasti menang.
(Devy Kalkausari)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar