Minggu, 23 Desember 2012

ARTIKEL


DAUR ULANG SAMPAH PLASTIK MENJADI TAS CANTIK
  
         Plastik telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia.   Plastik banyak digunakan sebagai bahan untuk kemasan.  Bentuknya yang praktis dan ringan merupakan salah satu alasan mengapa plastik banyak digunakan. Bahkan hampir di setiap tempat kita dapat menemukan plastik. Banyak produk dikemas dengan bahan plastik.
         Plastik digunakan sebagai bahan baku kemasan, produk-produk kebutuhan rumah tangga dan sebagainya. Hampir semua produk dikemas dengan plastik. Penggunaan kantong plastik juga sering digunakan saat berbelanja baik di pasar-pasar tradisional maupun di swalayan-swalayan. Kantong-kantong plastik banyak digunakan sebagai pengganti tas belanjaan karena lebih praktis dan murah. Kantong plastik tersebut biasanya hanya digunakansekali pakai saja. Hal ini menyebabkan penumpukan sampah plastik semakin meningkat.
Banyak kita temukan sampah plastik khususnya berupa kemasan berserakan di   jalan-jalan, taman, sungai, dan di berbagai tempat lainnya. Ini menunjukkan bahwa  masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Padahal, plastik-plastik yang telah menjadi sampah tersebut akan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik. Belum banyak masyarakat yang mengetahui bagaimana memanfaatkan sampah plastik dengan cara daur ulang.
Plastik adalah bahan yang mempunyai derajat kekristalan lebih rendah daripada serat. Plastik dapat dilunakkan atau dicetak pada suhu tinggi. Suhu peralihan kacanya harus di atas suhu ruang, jika tidak maka akan banyak bersambung silang. Plastik merupakan polimer bercabang atau linier yang dapat dilelehkan di atas panas penggunaannya. Plastik dapat dicetak dan dicetak ulang sesuai bentuk yang diinginkan dan yang dibutuhkan dengan menggunakan proses ekstrusi. Plastik juga dapat dibentuk menjadi fiber sintetik (http://www.chem-is-try.org).
Banyak orang yang tidak tahu bahwa sebenarnya plastik yang memiliki tanda panah segitiga tidak semuanya dapat didaur ulang. Sebenarnya tanda segitiga panah pada plastik menunjukkan bahan yang digunakan. Dan kebanyakan dari kita menganggapnya sebagai tanda recycle saja. Di tengah tanda segitiga panah terdapat nomor yang menunjukkan jenis-jenis plastik. Jenis-jenis plastik berdasarkan nomor-nomor tersebut (http://www.ampl.or.id) yaitu:
1.     PET atau PETE adalah polyethylene terephtalate. Digunakan untuk membuat botol plastik dan kontainer dari minuman serta botol minyak sayur. Dapat didaur ulang menjadi pakaian, karpet, kontainer baru.
2.   

3
HDPE adalah polyethylene densitas tinggi, plastik serba guna yang dapat didaur ulang. Digunakan untuk membuat botol deterjen, botol jus, botol oli motor, kantong sampah dan kotak sereal. Dapat didaur ulang menjadi botol, lantai keramik, pipa drainase dan mebel.
3.    Vinyl/PVC atau V/polyvinyl chloride yang keras dan tahan cuaca. Digunakan untuk membuat botol deterjen, botol minyak goreng, jendela, pipa saluran, dan bungkus makanan cerah. Dapat didaur ulang untuk membuat lantai, keset, dan sebagainya.
4.    LDPE adalah low density polyethylene dan memiliki banyak aplikasi. Digunakan untuk botol dan tote bags. Dapat didaur ulang untuk bil pesawat milik maskapai, tong penyimpan pupuk kompos, bahan untuk lantai dan bangunan.
5.    PP adalah polypropylene. Umumnya ditemukan dalam tutup botol, yogurt container, dan botol saus. Dapat didaur ulang menjadi kabel baterai, wadah, tong dan nampan.
6.    PS adalah polystyrene yang biasa dikenal dengan merk dagang styrofoam. Styrene telah diklaim oleh kelompok kesehatan bahwa dapat melepaskan toksin ke dalam makanan. Agen perlindungan hidup Amerika Serikat menyatakan bahwa styrene memiliki efek yang merugikan bagi kesehatan. Dapat didaur ulang dan digunakan untuk membuat insulasi.
7.    Other/lainnya/polycarbonate, adalah produk yang digunakan untuk membuat iPod, DVD, kacamata hitam, anti-peluru, dan galon air 5 liter. Jenis plastik ini tidak mudah didaur ulang.

      Salah satu penyebab rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini  masih menjadi persoalan besar yaitu faktor pembuangan limbah sampah plastik. Sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah anorganik (Siti Rochani, 2007: 34). Sampah jenis ini tidak mudah membusuk. Plastik yang telah menjadi sampah memerlukan waktu ratusan tahun untuk dapat terurai dengan sempurna. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Sampah plastik dapat menghalangi sirkulasi di dalam tanah dan ruang gerak hewan-hewan pengurai di dalam tanah sehingga menurunkan kesuburan tanah. Jika sampah plastik dibakar, maka akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bila terhirup oleh manusia. Dampaknya antara lain dapat menyebabkan penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf dan gejala depresi. Sampah-sampah berupa kantong plastik juga dapat menyebabkan banjir karena menyumbat saluran-saluran air atau tanggul bahkan dapat merusak turbin waduk. Sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer yang mengakibatkan pemanasan global  (http://www.kapanlagi.com).
   Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 milyar kantong plastik digunakan  penduduk dunia dalam satu tahun. Ini berarti ada 1 juta kantong plastik per menit. Jika sampah-sampah ini dibentangkan maka dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat. Coba bayangkan begitu fantastisnya sampah plastik yang sudah terlampau menggunung di bumi kita ini. Dan yang lebih fantastis lagi, diperlukan 12 juta barel minyak per tahun dan 14 juta pohon ditebang untuk membuatnya. Bila hal tersebut dibiarkan terus-menerus dapat merusak lingkungan dan berpengaruh buruk terhadap kesehatan manusia.
Beberapa fakta yang berkaitan dengan sampah plastik dan lingkungan:
1.    Sekitar 80% sampah di lautan berasal dari daratan dan hampir 90% adalah plastik.
2.    Bulan Juni 2006 program lingkungan PBB memperkirakan dalam setiap mil persegi terdapat 46.000 sampah plastik mengambang di lautan.
3.    Banyak penyu di Kepulauan Seribu yang mati karena memakan plastik yang dikira ubur-ubur, makanan yang disukainya.
4.    Kantong plastik sisa telah banyak ditemukan di kerongkongan anak elang laut di Pulau Midway, Lautan Pasifik (http://www.kapanlagi.com).
      Begitu banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari limbah sampah plastik yang tetap dibiarkan begitu saja tanpa adanya penanganan khusus. Apalagi dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan manusia. Lingkungan juga menjadi tercemar. Diperlukan partisipasi dari masyarakat untuk menanggulangi hal tersebut. Cara yang paling efektif untuk mengurangi penumpukan sampah plastik yaitu dengan proses daur ulang. Melalui proses daur ulang, penumpukan sampah plastik akan berkurang. Hasil dari proses daur ulang dapat kita manfaatkan kembali.
     Dari uraian sebelumnya telah kita ketahui bahwa sampah plastik memiliki berbagai dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Cara yang lebih efektif untuk menanggulanginya yaitu dengan daur ulang. Selain dapat mengurangi penumpukan sampah plastik, daur ulang juga dapat mengubah sampah-sampah plastik yang tadinya sudah tidak berguna lagi menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi. Daur ulang dapat dilakukan sesuai dengan jenis plastik. Namun, ada cara yang lebih mudah dan praktis untuk memanfaatkan sampah plastik, yaitu dengan membuat kerajinan tas plastik bekas kemasan. Oleh karena itu, proses pembuatan tas berbahan plastik bekas kemasan perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar masyarakat dapat mengetahui cara memanfaatkan sampah plastik. Ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi penumpukan sampah plastik.
     Berikut adalah alat dan bahan serta proses pembuatan tas cantik dari sampah plastik bekas kemasan.
Alat dan bahan:
1.    Kemasan plastik 450 ml sebanyak 4 buah dengan corak dan warna yang senada (2 buah untuk sisi depan dan belakang, 2 buah lagi untuk sisi kiri dan kanan).
2.    Bisban dengan panjang 50 cm dan lebar 3 cm untuk tali tas.
3.    Bisban dengan panjang 1 m dan lebar 2 cm.
4.    Perekat 4 cm.
5.    Renda katun 30 cm sebagai hiasan.
6.    Jarum (ukuran 16) dan benang jahit berwarna senada.
      Cara membuat:
a. Bersihkan kemasan plastik dari segala noda dan kotoran. Untuk membersihkannya bisa menggunakan kertas tisu. Jika noda sulit dibersihkan, bisa merendamnya di dalam air hangat. Jangan menggunakan air yang terlalu panas karena dapat merusak tekstur plastik.
b.    Gunting dua buah kemasan dengan ukuran yang diinginkan. Usahakan potongan kedua kemasan plastik memiliki ukuran yang sama.
c.  Gunting dua kemasan lain (untuk sisi kiri dan kanan) menjadi dua bagian dengan lebar 7 cm. Jahit bisban pada sisi lebar masing-masing kemasan yang sudah dipotong.
d.    Pasang dan jahit perekat dengan menggunakan mesin jahit pada bagian dalam sisi depan dan belakang.
e.    Pasang dan jahit bisban dengan lebar 3 cm pada bagian permukaan plastik (sisi depan dan belakang) sebagai tali tas.
f.    Pasang dan jahit renda katun sekaligus bisban pada sisi atas lembar kemasan plastik. Lakukan langkah ini pada kemasan plastik untuk sisi depan dan belakang.
g.  Sambungkan kedua kemasan plastik yang sudah dipotong berukuran 7 cm (untuk sisi kiri dana kanan tas) sehingga membentuk lembaran panjang.
h.    Hubungkan dan sambung dengan jahitan mesin lembaran panjang tadi dengan lembaran plastik untuk sisi depan dan belakang.
i.     Pasang bisban pada seluruh tepinya. Jadilah tas mungil nan cantik berbahan kemasan plastik.
       Dengan cara yang sama seperti yang telah dijelaskan di atas, tas juga dapat dibuat dengan ukuran yang lebih besar. Tentunya dengan menggunakan kemasan plastik bekas yang lebih banyak lagi dengan motif dan warna yang senada. Dapat juga ditambahkan beberapa pernak-pernik sebagai hiasan tas agar lebih menarik. Pernak-pernik yang digunakan tidak harus mahal, cukup dengan memanfaatkan plastik bekas yang dibentuk sedemikian rupa sesuai dengan yang diinginkan. Model tas pun dapat disesuaikan dengan selera masing-masing. Sampah plastik tidak hanya dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat tas saja, tetapi juga dapat dibuat menjadi berbagai barang menarik lainnya sesuai dengan kreasi masing-masing. 

                                                                      (Devy Kalkausari)

DAFTAR PUSTAKA
Rochani, Siti. 2007. Seri Sanitasi Lingkungan. Surabaya: JP Books.
http://www.chem-is-try.org



Tidak ada komentar:

Posting Komentar