Kamis, 06 Desember 2012

CERPEN #1


ARTI SEBUAH PENGORBANAN
   Oleh: Devy Kalkausari





Terik matahari mengiringi langkahku. Motor bututku mogok dan terpaksa harus menuntunnya sampai menemukan bengkel terdekat. Kejadian ini sering kualami. Kadang aku berangan-angan ingin memiliki ini itu. Tapi apa daya aku bukanlah anak dari keluarga yang berada. Ah, seandainya….. Tiiiin….tiiin.. Suara klakson mobil mengagetkan lamunanku.
     “Minggir lo orang udik!” Suara yang tak asing lagi bagiku. Fira. Ya, gadis cantik dengan rambutnya yang selalu terurai panjang. Aku hanya tersenyum mendengar celaan itu. Entah mengapa tak pernah terbesit rasa benci padanya yang selalu merendahkanku. Mungkin karena rasa sayangku yang begitu dalam  padanya. Sayang? Ya, aku sudah lama memendam rasa ini. Tepatnya sejak masa orientasi sekolah. Hingga sekarang kelas 3 SMA rasaku ini masih bertahan.
Kebenciannya padaku itu berawal dari Rino, teman yang kuanggap sahabat baikku membocorkan rahasiaku dengan memberitahu Fira bahwa aku menaruh hati padanya. Tidak hanya itu, Rino juga menghasutnya untuk tidak mengenalku karena aku berasal dari keluarga yang tak mampu. Bagaimana tidak? Dia adalah anak pengusaha sukses yang paling disegani. Sedangkan aku? Bagai pungguk merindukan bulan. Tapi aku juga tidak membenci Rino atas apa yang telah dia lakukan padaku. Aku menganggap rasa gengsilah yang merajai hati Fira untuk berteman de- nganku.
Bel sekolah berbunyi menandakan jam istirahat telah tiba. Kulihat tawa ceria mereka tak sabar bergegas ke kantin. Aku masih tak beranjak dari bangku meskipun teman-teman yang masih peduli denganku mengajakku keluar kelas. Tak mungkin aku ke kantin. Jarang sekali aku merasakan nikmatnya makan di kantin dengan macam-macam makanan yang membuat perut kembang-kempis. Mungkin hanya belum saatnya saja aku seperti mereka. Kalimat itu selalu menguatkanku. Aku lebih memilih duduk di kelas sambil membaca buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan sekolah. Terkadang ada yang memanggilku dengan sebutan kutu buku.
“Eh, ada Rizal si udik. Kenapa diem aja di kelas? Capek dorong motor kemarin ya? Hahaha..” Suara ledekan itu terdengar lagi dari balik kaca jendela kelas. Siapa lagi kalau bukan Fira. Aku hanya tersenyum tanpa membalasnya dengan kata-kata meskipun sebenarnya batinku menangis. Kebetulan pula kelas kita bersebelahan dan jika hendak ke kantin dia harus melewati kelasku. Sosoknya masih tampak dari kejauhan. Kutatap lekat dirinya. ‘Kamu tetap terlihat sempurna, Fira’, gumamku lirih.
Pagi yang dingin berselimut kabut. Aku sudah tiba di sekolah setengah jam sebelum bel tanda masuk dibunyikan. Pandanganku terbenam pada lantai sekolah sambil  kembali berangan-angan. Brakkk.. Seorang gadis cantik tersungkur jatuh di depanku. Fira. Aku hendak menolongnya tapi cacian itu dengan cepat terlontar dari mulutnya.
“Eh, udik! Kamu sengaja menabrakku ya?  Sengaja biar aku jatuh lalu terluka? Hah?!”
“Maaf, Fir, aku tak sengaja. Justru aku tadi akan meno…”
“Gak usah banyak alasan!” selanya memotong pen- jelasanku. Aku mulai geram. Rasa-rasanya inilah puncak dari kesabaranku selama ini.
“Fir, aku rasa kamu sudah cukup mencaci-maki diriku. Aku ingin menantangmu dalam sebuah permainan.”
“Permainan apa?” Tanya Fira dengan ekspresi merendahkanku.
Aku masuk ke kelas, kuambil satu set kartu bridge di laci meja temanku. Kartu ini biasa digunakan untuk bermain oleh anak-anak badung
saat jam kosong. Lalu aku segera kembali di hadapan Fira. Fira mengernyitkan dahinya mencoba menebak permainan apa yang akan kupertaruhkan.
“Aku menantangmu bermain kartu dengan cara yang berbeda. Kartu ini akan diacak dan masing-masing dari kita akan mengambil sebuah kartu. Nilai kartu siapa yang paling besar dia yang menang dan boleh meminta apapun dari yang kalah. Tapi, bila kalah, selain menuruti apa keinginan sang pemenang dia juga harus berendam di kolam ikan itu sampai bel masuk berbunyi,” terangku panjang lebar sambil menunjuk sebuah kolam yang berada tak jauh dari tempat kita berdiri.
“Itu pun kalau kamu berani dengan tantangan ini,” lanjutku dengan nada mengejek.
“Berani,” tegasnya singkat seolah tak mau dianggap pengecut.
Kuserahkan satu set kartu bridge itu padanya untuk diacak. Beberapa detik kartu itu sudah berubah sususan. Dia menyodorkannya padaku untuk mengambil kartu terlebih dahulu. Namun kupersilakan dia yang mengambil duluan. Lady’s first. Dia mengambil satu kartu. Tampak tegang   ekspresi wajahnya. Namun hanya hitungan detik ekspresi itu berubah menjadi senyum kecil sambil memperlihatkan kartunya padaku. King Hati. Aku masih bersikap santai. Kini giliranku untuk mengambil kartu. Kuambil satu kartu tanpa ragu. Kulihat sekilas  dan…… kuremas kartu itu, kugenggam erat tanpa kuperlihatkan padanya. Dengan kaki berat dan gontai aku melangkah menuju kolam ikan itu. Tanpa ragu aku berendam di dalamnya. Semua mata tertuju padaku. Ada yang berbisik-bisik, ada yang tertawa, tetapi ada juga yang merasa iba padaku. Aku diam tertunduk lesu tanpa berkata apa-apa. Sedangkan di seberang sana tampak Fira tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan. Bel tanda masuk berbunyi nyaring. Aku keluar dari kolam dengan keadaan basah kuyup. Kuhampiri Fira yang masih bangga akan kemenangannya. Kutarik tangannya dan kuberikan sebuah kartu AS gambar hati. Dia tak mampu berkata apa-apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar