ARTI SEBUAH PENGORBANAN
Oleh: Devy Kalkausari
Oleh: Devy Kalkausari
Terik matahari mengiringi langkahku. Motor bututku mogok dan
terpaksa harus menuntunnya sampai menemukan bengkel terdekat. Kejadian ini
sering kualami. Kadang aku berangan-angan ingin memiliki ini itu. Tapi apa daya
aku bukanlah anak dari keluarga yang berada. Ah, seandainya….. Tiiiin….tiiin..
Suara klakson mobil mengagetkan lamunanku.
“Minggir lo orang udik!” Suara yang tak asing lagi bagiku.
Fira. Ya, gadis cantik dengan rambutnya yang selalu terurai panjang. Aku hanya
tersenyum mendengar celaan itu. Entah mengapa tak pernah terbesit rasa benci
padanya yang selalu merendahkanku. Mungkin karena rasa sayangku yang begitu
dalam padanya. Sayang? Ya, aku sudah lama memendam rasa ini.
Tepatnya sejak masa orientasi sekolah. Hingga sekarang kelas 3 SMA rasaku ini
masih bertahan.
Kebenciannya padaku itu berawal dari Rino, teman yang
kuanggap sahabat baikku membocorkan rahasiaku dengan memberitahu Fira bahwa aku
menaruh hati padanya. Tidak hanya itu, Rino juga menghasutnya untuk tidak
mengenalku karena aku berasal dari keluarga yang tak mampu. Bagaimana tidak?
Dia adalah anak pengusaha sukses yang paling disegani. Sedangkan aku? Bagai
pungguk merindukan bulan. Tapi aku juga tidak membenci Rino atas apa yang telah
dia lakukan padaku. Aku menganggap rasa gengsilah yang merajai hati Fira untuk
berteman de- nganku.
Bel sekolah berbunyi menandakan jam istirahat telah tiba.
Kulihat tawa ceria mereka tak sabar bergegas ke kantin. Aku masih tak beranjak
dari bangku meskipun teman-teman yang masih peduli denganku mengajakku keluar
kelas. Tak mungkin aku ke kantin. Jarang sekali aku merasakan nikmatnya makan
di kantin dengan macam-macam makanan yang membuat perut kembang-kempis. Mungkin
hanya belum saatnya saja aku seperti mereka. Kalimat itu selalu menguatkanku.
Aku lebih memilih duduk di kelas sambil membaca buku-buku yang kupinjam dari
perpustakaan sekolah. Terkadang ada yang memanggilku dengan sebutan kutu buku.
“Eh, ada Rizal si udik. Kenapa diem aja di kelas? Capek
dorong motor kemarin ya? Hahaha..” Suara ledekan itu terdengar lagi dari balik
kaca jendela kelas. Siapa lagi kalau bukan Fira. Aku hanya tersenyum tanpa
membalasnya dengan kata-kata meskipun sebenarnya batinku menangis. Kebetulan
pula kelas kita bersebelahan dan jika hendak ke kantin dia harus melewati kelasku.
Sosoknya masih tampak dari kejauhan. Kutatap lekat dirinya. ‘Kamu tetap
terlihat sempurna, Fira’, gumamku lirih.
Pagi yang dingin berselimut kabut. Aku sudah tiba di sekolah
setengah jam sebelum bel tanda masuk dibunyikan. Pandanganku terbenam pada
lantai sekolah sambil kembali berangan-angan. Brakkk.. Seorang gadis
cantik tersungkur jatuh di depanku. Fira. Aku hendak menolongnya tapi cacian
itu dengan cepat terlontar dari mulutnya.
“Eh, udik! Kamu sengaja menabrakku ya? Sengaja
biar aku jatuh lalu terluka? Hah?!”
“Maaf, Fir, aku tak sengaja. Justru aku tadi akan meno…”
“Gak usah banyak alasan!” selanya memotong pen- jelasanku.
Aku mulai geram. Rasa-rasanya inilah puncak dari kesabaranku selama ini.
“Fir, aku rasa kamu sudah cukup mencaci-maki diriku. Aku
ingin menantangmu dalam sebuah permainan.”
“Permainan apa?” Tanya Fira dengan ekspresi merendahkanku.
Aku masuk ke kelas, kuambil satu set kartu bridge di laci
meja temanku. Kartu ini biasa digunakan untuk bermain oleh anak-anak badung
saat
jam kosong. Lalu aku segera kembali di hadapan Fira. Fira mengernyitkan dahinya
mencoba menebak permainan apa yang akan kupertaruhkan.
“Aku menantangmu bermain kartu dengan cara yang berbeda.
Kartu ini akan diacak dan masing-masing dari kita akan mengambil sebuah kartu.
Nilai kartu siapa yang paling besar dia yang menang dan boleh meminta apapun
dari yang kalah. Tapi, bila kalah, selain menuruti apa keinginan sang pemenang
dia juga harus berendam di kolam ikan itu sampai bel masuk berbunyi,” terangku
panjang lebar sambil menunjuk sebuah kolam yang berada tak jauh dari tempat
kita berdiri.
“Itu pun kalau kamu berani dengan tantangan ini,” lanjutku
dengan nada mengejek.
“Berani,” tegasnya singkat seolah tak mau dianggap pengecut.
Kuserahkan satu set kartu bridge itu padanya untuk diacak.
Beberapa detik kartu itu sudah berubah sususan. Dia menyodorkannya padaku untuk
mengambil kartu terlebih dahulu. Namun kupersilakan dia yang mengambil
duluan. Lady’s first. Dia mengambil satu kartu. Tampak
tegang ekspresi wajahnya. Namun hanya hitungan detik ekspresi
itu berubah menjadi senyum kecil sambil memperlihatkan kartunya padaku. King
Hati. Aku masih bersikap santai. Kini giliranku untuk mengambil kartu. Kuambil
satu kartu tanpa ragu. Kulihat sekilas dan…… kuremas kartu itu,
kugenggam erat tanpa kuperlihatkan padanya. Dengan kaki berat dan gontai aku
melangkah menuju kolam ikan itu. Tanpa ragu aku berendam di dalamnya. Semua
mata tertuju padaku. Ada yang berbisik-bisik, ada yang tertawa, tetapi ada juga
yang merasa iba padaku. Aku diam tertunduk lesu tanpa berkata apa-apa.
Sedangkan di seberang sana tampak Fira tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
Bel tanda masuk berbunyi nyaring. Aku keluar dari kolam dengan keadaan basah
kuyup. Kuhampiri Fira yang masih bangga akan kemenangannya. Kutarik tangannya
dan kuberikan sebuah kartu AS gambar hati. Dia tak mampu berkata apa-apa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar