Makkah Pusat Waktu Global
yang Sesungguhnya?
Kota Makkah
kini memiliki sebuah jam raksasa yang diletakkan di tembok sebuah gedung
pencakar langit Makkah yang diharapkan akan menjadi pengganti GMT khususnya
bagi satu setengah milyar umat Muslim di seluruh dunia.
Keinginan
untuk menjadikan Makkah sebagai pusat rujukan jam dunia telah dibahas tahun
2008 di Doha. Saat itu para tokoh dan cendekiawan Islam berdiskusi, dan tiba
pada suatu kesimpulan bahwa Makkah merupakan titik zona nol magnet bumi, sebab
posisi kota itu sejajar dengan magnet bumi utara. Dengan posisi seperti itu
sesungguhnya Makkah merupakan garis waktu global dunia yang sebenarnya, bukan
GMT.
Dengan argumen seperti itu, para tokoh dunia Islam berharap jam
raksasa di Makkah itu nantinya tidak hanya menjadi rujukan umat Muslim sedunia
saja, tetapi lebih dari itu, yakni menjadi rujukan dunia secara umum,
menggantikan GMT yang sudah dipergunakan selama 125 tahun. Atau setidaknya, ada
acuan lain di luar GMT yang selama ini memonopoli rujukan waktu dunia termasuk negara-negara
Islam.
Cita-cita menjadikan jam gadang Makkah sebagai rujukan dunia kini
secara fisik telah terwujud dengan hampir selesainya pembangunan kompleks
menara jam di Abraj Al Bait, Makkah. Sebuah menara setinggi 590 meter berdiri
tegak di sana dengan jam berdiameter 45 meter, lebih besar dari Big Ben di
London, Inggris yang tingginya 94,8 meter dengan diameter jam 6,9 meter.
Jam raksasa berbentuk bulat dengan dasar warna hijau serta angka
romawi penanda waktu itu tampak indah dari kejauhan. Hiasan kaligrafi
bertuliskan ‘Allah’ yang berada tepat di tengah-tengah diameter jam menjadi cirri
khas jam tersebut sebagai jam umat Muslim.
Bagi jemaah haji yang saat ini sudah berkumpul di Makkah, jam
gadang yang telah dioperasikan sejak 12 Agustus 2010, bukan hanya berfungsi
sebagai penunjuk waktu, tetapi juga sebagai patokan letak Masjidil Haram, sebab
menara jam tersebut berada hanya selemparan batu dari pelataran masjid.
Sosok menara jam tampil dominan, sebab menara di sisinya tingginya
hanya setengah dari tinggi menara jam. Gedung-gedung pencakar langit lainnya
yang berada di sekitar Masjidil Haram juga hanya setinggi enam menara itu,
termasuk bangunan tempat tinggal raja.
Dengan posisi seperti itu, menara jam Makkah menjadi bangunan
tertinggi di Arab Saudi, dan nomor dua di dunia. Ketinggiannya hanya kalah dari
menara Burj Khalifa (828 meter) di Dubai.
Bila malam menjelang, jam raksasa seharga tiga juta dolar AS itu
disinari 21.000 lampu bewarna putih dan hijau. Lampu akan berkedap kedip
sebagai petanda waktu shalat telah datang. Istimewanya lagi, lampu dan sinarnya
itu sudah dapat dilihat dari jarak 29 kilometer, merupakan titik check-point
pemeriksaan kendaraan dan penumpangnya saat memasuki kota suci Makkah dari
Jeddah. Kini, bangunan setinggi hampir 2.000 kaki ini merupakan bangunan
tertinggi di Mekkah.
Jam empat sisi dengan diameter 151 kali ini total diterangi lampu
LED 2 juta bersama dengan besar huruf Arab bertulis “Dengan Nama Allah”. Jam akan
menjadi rujukan baru yang disebut Arabia Standard Time (AST), tiga jam lebih cepat
dari GMT.
Menurut Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama Mesir dikenal di seluruh
dunia dan menjadi nara sumber acara televisi populer di Inggris, "Syariah
dan Kehidupan", Makkah memiliki klaim yang lebih besar untuk menjadi
meridian utama. Alasannya, kata dia, karena Makkah berada “dalam keselarasan
sempurna dengan magnetik kutub utara.”
Hal ini menyatakan bahwa
kota suci adalah "nol zona magnet" telah memenangkan dukungan dari
beberapa ilmuwan Arab seperti Abdel-Baset al-Sayyid dari Pusat Penelitian
Nasional Mesir yang mengatakan bahwa tidak ada gaya magnet di Makkah.
"Itu sebabnya jika seseorang melakukan perjalanan ke Makkah atau tinggal di sana, dia tinggal lebih lama, lebih sehat, dan kurang dipengaruhi oleh gravitasi bumi," katanya. "Anda mendapatkan diri Anda diisi dengan energi."
Ilmuwan Barat telah menentang pernyataan tersebut, dan berargumen bahwa Kutub Utara Magnetik sebenarnya adalah sebuah fakta aktual garis bujur yang melewati Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, dan Antartika.
"Itu sebabnya jika seseorang melakukan perjalanan ke Makkah atau tinggal di sana, dia tinggal lebih lama, lebih sehat, dan kurang dipengaruhi oleh gravitasi bumi," katanya. "Anda mendapatkan diri Anda diisi dengan energi."
Ilmuwan Barat telah menentang pernyataan tersebut, dan berargumen bahwa Kutub Utara Magnetik sebenarnya adalah sebuah fakta aktual garis bujur yang melewati Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, dan Antartika.
Sumber : http://www.republika.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar