Ketika perasaan teraniaya oleh kata-kata
Ketika itu pula rasa benci mulai membara
Meski paku telah dicabut dari kayunya
Bekasnya pun masih menganga menyisakan luka
Lidah memang tak bertulang
Tapi ketajamannya sanggup melebihi pedang
Torehan luka itu begitu sakit dan perih terasa
Terus dan terus tertatih tuk coba lupa tapi semua sia-sia
Perih, pedih, dan merintih karena lukanya
Luka yang kembali terkoyak oleh sembilu
Kini mengelupas kulitnya menciptakan air mata
Kebenaran dan keadilan kini hanya puing-puing belaka
Kepalsuan dan kemunafikan diagung-agungkan
Kebaikan dan kedamaian semakin terabstrakkan
Pilu yang tercabik-cabik nestapa kian tersa sakitnya
Maaf pun tak akan mampu menebus rintihannya
(Devy Kalkausari)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar