FENOMENA TAWURAN
ANTARPELAJAR
Kata tawuran biasanya identik dengan kaum pelajar
terutama siswa SMA. Berbagai faktor dapat mempengaruhi fenomena tersebut. Mengapa tradisi seperti ini
masih dipertahankan, bahkan telah mendarah daging? Padahal hal semacam ini
tidak memberikan manfaat dan faedah sama sekali. Dampaknya hanya akan
menimbulkan korban jiwa dan kerusakan-kerusakan pada fasilitas umum. Lalu,
mengapa masih ada tawuran?
Masa remaja merupakan masa yang paling rentan
dengan berbagai problematika remaja. Manajemen ego belum dapat dikelola dengan baik.
Berbagai persoalan akan mereka hadapi dengan cara yang mereka anggap mampu
menyelesaikan masalah seperti dengan kekerasan atau melukai secara fisik
orang-orang yang mereka anggap sebagai lawan. Dalam kasus ini, faktor penyebab
tawuran tidak serta-merta hanya karena faktor dari dalam diri remaja itu
sendiri. Faktor eksternal juga dapat mendominsai maraknya tawuran antarpelajar.
Misalnya faktor pengaruh lingkungan yang
cukup kuat oleh teman sebaya. Rasa solidaritas atau setia kawan yang tinggi
antara sesama anggota geng yang mereka bentuk dapat berpengaruh pada sikap atau
perilaku remaja. Sebagai anggota geng
dituntut wajib untuk mematuhi aturan geng dan bersedia membela anggota. Mereka akan
bangga jika dapat melakukan sesuatu untuk kelompoknya.
Pada dasarnya faktor penyebab tawuran antarpelajar
ini sangatlah kompleks, meliputi faktor sosiologis, psikologis, budaya, atau
bahkan adanya kebijakan-kebijakan umum yang dirasa mengesampingkan keberadaan
para remaja tersebut. Fenomena tawuran ini perlu diperhatikan lebih serius
karena berakibat fatal jika dibiarkan begitu saja. Jika tidak ada solusi yang jitu untuk
menuntaskan persoalan ini maka dapat mengakibatkan semakin banyaknya terjadi
kasus-kasus tawuran yang memakan korban jiwa. Jika hal ini terus berlanjut,
bukan tidak mungkin tawuran akan menjadi tradisi di kalangan remaja. Mereka dapat
menganggap bahwa hal semacam ini sudah tidak tabu lagi untuk dilakukan.
Dalam persoalan ini dibutuhkan kerjasama dari
berbagai pihak. Keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat berperan penting dalam
memberantas aksi yang tidak patut untuk
dilakukan semacam ini. Orang tua perlu memberikan perhatian khusus kepada anak
agar tidak mudah terlibat dalam hal-hal yang negatif. Demikian juga guru
sebagai orang tua di sekolah sudah seharusnya memberikan bimbingan kepada
peserta didik dalam pembentukan karakter. Sesuai tugas guru sebagai pengajar
sekaligus pendidik. Guru tidak hanya dapat menransfer ilmu kepada peserta
didik, tetapi juga harus mampu dalam melakukan perannya sebagai pendidik.
Oleh karena itu, kita semua harus saling bekerja
sama dalam memberantas tawuran secara tuntas. Lindungi generasi bangsa ini dari
kehancuran.
(Devy Kalkausari)
(Devy Kalkausari)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar