Kamis, 27 Desember 2012

ARTIKEL



FENOMENA TAWURAN ANTARPELAJAR


Kata tawuran biasanya identik dengan kaum pelajar terutama siswa SMA. Berbagai  faktor dapat mempengaruhi fenomena tersebut. Mengapa tradisi seperti ini masih dipertahankan, bahkan telah mendarah daging? Padahal hal semacam ini tidak memberikan manfaat dan faedah sama sekali. Dampaknya hanya akan menimbulkan korban jiwa dan kerusakan-kerusakan pada fasilitas umum. Lalu, mengapa masih ada tawuran?
Masa remaja merupakan masa yang paling rentan dengan berbagai problematika remaja. Manajemen ego belum dapat dikelola dengan baik. Berbagai persoalan akan mereka hadapi dengan cara yang mereka anggap mampu menyelesaikan masalah seperti dengan kekerasan atau melukai secara fisik orang-orang yang mereka anggap sebagai lawan. Dalam kasus ini, faktor penyebab tawuran tidak serta-merta hanya karena faktor dari dalam diri remaja itu sendiri. Faktor eksternal juga dapat mendominsai maraknya tawuran antarpelajar. Misalnya  faktor pengaruh lingkungan yang cukup kuat oleh teman sebaya. Rasa solidaritas atau setia kawan yang tinggi antara sesama anggota geng yang mereka bentuk dapat berpengaruh pada sikap atau perilaku remaja.  Sebagai anggota geng dituntut wajib untuk mematuhi aturan geng dan bersedia membela anggota. Mereka akan bangga jika dapat melakukan sesuatu untuk kelompoknya.
Pada dasarnya faktor penyebab tawuran antarpelajar ini sangatlah kompleks, meliputi faktor sosiologis, psikologis, budaya, atau bahkan adanya kebijakan-kebijakan umum yang dirasa mengesampingkan keberadaan para remaja tersebut. Fenomena tawuran ini perlu diperhatikan lebih serius karena berakibat fatal jika dibiarkan begitu saja.  Jika tidak ada solusi yang jitu untuk menuntaskan persoalan ini maka dapat mengakibatkan semakin banyaknya terjadi kasus-kasus tawuran yang memakan korban jiwa. Jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin tawuran akan menjadi tradisi di kalangan remaja. Mereka dapat menganggap bahwa hal semacam ini sudah tidak tabu lagi untuk dilakukan.
Dalam persoalan ini dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat berperan penting dalam  memberantas aksi yang tidak patut untuk dilakukan semacam ini. Orang tua perlu memberikan perhatian khusus kepada anak agar tidak mudah terlibat dalam hal-hal yang negatif. Demikian juga guru sebagai orang tua di sekolah sudah seharusnya memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam pembentukan karakter. Sesuai tugas guru sebagai pengajar sekaligus pendidik. Guru tidak hanya dapat menransfer ilmu kepada peserta didik, tetapi juga harus mampu dalam melakukan perannya sebagai pendidik.
Oleh karena itu, kita semua harus saling bekerja sama dalam memberantas tawuran secara tuntas. Lindungi generasi bangsa ini dari kehancuran.

                                                                         (Devy Kalkausari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar